“SPIRIT_45: the Rise of Asia and Our French Odyssey”,
Andyrahman Architect, Grand Royal Regency G3-11 Wage Taman Sidoarjo, Jawa Timur,
Sabtu, 28 April 2018.

SPIRIT_45 adalah sebuah sesi dialog, momen diskursus, dan wahana apresiasi arsitektur. Andy Rahman, Eka Swadiansa dan Realrich Sjarief bertemu dan berdiskusi, merefleksikan pemikiran Arsitektur Indonesia dalam praktek keseharian biro masing-masing. Konsep/realisasi, abstrak/detail, besar/kecil, kesederhanaan/kompleksitas, visi desain/teknik keterbangunan –semua prihal praktek arsitektur dalam lingkup keterbatasan biro muda- dilakukan sebagai sebuah usaha dalam menjawab pertanyaan tema besar konferensi “The Rise of Asia in Global History and Perspective”. Menghasilkan pemikiran kolektif sementara; sebuah perjalanan bersama yang kemudian terus dipikirkan, direnungkan, dan dicari kembali maknanya – kenapa, untuk apa, dan untuk siapa. Acara SPIRIT_45: the Rise of Asia adalah sebuah jabat tangan yang lebih erat, kesempatan untuk berdiskusi lebih dalam, momentum untuk saling memberi dan menerima. Pencarian lebih lanjut terhadap makna dari sebuah kebersamaan.

Acara akan dibuka dengan penjelasan latar belakang dan posisi pemikiran arsitektur SPIRIT_45 terhadap konstruksi kurasi politik/ekonomi/budaya “the Rise of Asia” yang digawangi oleh Prof. Darwis Khudori. Meneruskan partisipasi di Prancis, di sesi pertama Eka Swadiansa akan mempresentasikan diskursus “Iconoloci: An Unfinished Manifesto” dengan landasan dua presentasi peer-reviewed papers berjudul: (i) “The Contradictions of Postmodern Architecture: From American Dream to Chinese Reality”, dan (ii) “The Origin of Postmodern Architecture: Eurocentric Pragmatism or Asian Symbolism”. Bertindak sebagai Copernicus’ Paradigm, paper pertama akan bercerita mengenai sudut pandang lain dalam memahami (budaya) arsitektur postmodern diluar batasan pembacaan popular pendidikan/media berbasis eurosetris. Sementara itu, bertidak sebagai Darwin’s Primordial, paper kedua akan menyajikan secara singkat dialektika historis arsitektur kontemporer (modernis dan posmodernis) dan bagaimana perkembangannya telah menciptakan jebakan nihilisme tak berujung.

Merespon jebakan nihilisme Arsitektur Postmodern, di sesi kedua Realrich Sjarief akan membawa diskursus kembali ke era modernisme-awal untuk memaparkan “Thoughts: the Secret Laboratory of Le Corbusier”. Dikurasi dari tiga buah buku: (i) Precisions: On the Present State of Architecture and City Planning oleh Le Corbusier (Schreiber, 1991), (ii) Le Corbusier’s Secret Laboratory: From Painting to Architecture (Ahrenberg, Birnbaum & Hendricks, 2013), dan (iii) Le Corbusier: The Architect on the Beach (Niklas Maak, 2011); presentasi ini berusaha untuk menelusuri kembali pemikiran-pemikiran dari salah satu tokoh paling penting yang turut membentuk pemahaman/praktek arsitektur/kota sejak era modernis awal hingga masa kini. Ditujukan untuk memahami bagaimana seni, ekonomi, ketukangan, dan observasi membentuk karya-karya Le Corbusier; presenter akan mengelaborasi poin-poin seputar bagaimana Le Corbusier bekerja, apa kualitas yang dibayangkannya, serta bagaimana kualitas tersebut berubah seiring dengan berubahnya kedewasaan sang arsitek dalam melihat sebuah permasalahan desain yang kemudian diformulasikan kedalam publikasi/ceramah teori-teori desainnya.

Beranjak dari pemahaman kajian teori menuju observasi karya terbangun, di sesi ketiga Andy Rahman akan memaparkan “Pilgrimage: the Eye, the Experience, and the Discourses” untuk menyampaikan tentang bagaimana presenter mengalami, mendiskusikan dan berusaha memahami karya-karya Le Corbusier langsung secara on-site. Menyadari pentingnya ziarah arsitektur dalam mengenyam pemahaman yang holistik; presentasi juga akan memaparkan cerita-cerita menarik ketika SPIRIT_45 mempersiapkan, mengeksekusi, dan mengevaluasi apa yang terjadi selama perjalanan ke enam karya sang maestro: (i) Villa La Roche (Paris, 1923), (ii) Villa Savoye (Poissy, 1928-31), (iii) Chapelle Notre Dame du Haut (Ronchamp, 1950-54), (iv) Maison du Bresil (Paris, 1957), (v) Couvent de La Tourette (Evoux, 1957-60), dan (vi) Firminy Vert (Firminy, 1964-2006). Sebagai usaha untuk mengapresiasi karya-karya penting Le Corbusier secara obyektif dan proporsional, diskursus akan difokuskan pada pembahasan detail konstruksi, pengalaman spasial, serta bagaimana beberapa karya bahkan mampu mempengaruhi kehidupan penduduk disekitarnya.

Sebagai penutup, Eka Swadiansa akan mempresentasikan “Contextual Retrospective: Critiques for the Le Corbusier of Our Time” guna membawa kajian Le Corbusier kembali kepada konteks kekinian, merajut tautan dengan ‘Rise of Asia’ sebagai buah karya ‘Bandung Spirit’ (www.bandungspirit.org) yang meneruskan semangat Asia Afrika (1955) dan Tri Continentalle (1966) dibawah komite 32 scientific board dari 16 negara; sembari memperkenalkan konsep Neo Vernacularism sebagai sudut pandang alternatif dalam membaca ulang sejarah Arsitektur dunia.

RUN DOWN
08.30 – 08:55 : Registrasi.
08.55 – 09.00 : Pembukaan (Andy Rahman).
09.00 – 09.45 : Iconoloci: an Unfinished Manifesto (Eka Swadiansa).
09.45 – 10.00 : Tanya Jawab Sesi 1.
10.00 – 10.45 : Thoughts: the Secret Library of Le Corbusier (Realrich Sjarief).
10.45 – 11.00 : Tanya Jawab Sesi 2.
11.30 – 12.30 : Ishoma.
12.30 – 12.45 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 1.
12.45 – 13.00 : Presentasi dan Tanya Jawab Sponsor 2.
13.00 – 14.30 : Pilgrimage: the Eye, the Experience, and the Discourses (Andy Rahman).
14.30 – 14.45 : Tanya Jawab Sesi 3.
14.45 – 14.55 : Contextual Retrospective: Critiques to the Le Corbusier of Our Time (Eka Swadiansa).
14.55 – 15.00 : Penutupan (Andy Rahman).

KONTAK DAN INFORMASI
[1] Andy Rahman, Jawa Timur. E: andyrahman_architect@hotmail.com
[2] Eka Swadiansa, Bali. E: info@studio-osa.com
[3] Realrich Sjarief, Jakarta. E: omahlibrary.reservation@gmail.com
W. www.spirit45.org